Tampilkan postingan dengan label 03 Kesehatan Ibu-Balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 03 Kesehatan Ibu-Balita. Tampilkan semua postingan

The value of breastfeeding in supporting the normal growth and development of infants and young children is recognized worldwide [1]. There is also a growing awareness that it is possible for women to breastfeed their adopted children, and that health care professionals should support them if they express a desire to do so [2]. However, both professional and lay literature are often unclear as to why adoptive breastfeeding may be of benefit. The ability of adoptive mothers to successfully relactate/ induce lactation is regularly questioned in literature [3-5], in spite of evidence that most adoptive mothers are physiologically capable of producing sufficient milk for their child [6]. In addition, discussion of the benefits of adoptive breastfeeding uniformly lacks detail on how breastfeeding may assist the child or mother [3-5,7]. Thus,adopted children. Four case histories of adoptive breastfeeding will also be presented.

Non-nutritional aspects of breastfeeding
The positive impact of breastmilk on the growth and development of babies is widely accepted [8]. However, breastfeeding is more than just the provision of nutrition; the act of suckling at the breast has an impact on both child and mother. Breastfeeding calms and provides analgesia to infants, as evidenced in reduced heart and metabolic rates and a reduced ability to perceive pain during suckling [9-11]. There are several reasons for this calming and analgesic effect. Firstly, suckling at the breast stimulates the infant's oropharyngeal tactile- and mechanoreceptors and focuses attention on the mouth, reducing outside influences [12,13]. Secondly, suckling and intestinal adsorption of fat from milk stimulates the release of the hormone cholecystokinin [14,15], which activates an afferent vagal mechanism that induces relaxation and pain relief [16]. Thirdly, the sweet flavour of milk stimulates the release of opioids in the midbrain of infants, which act on receptors that decrease the perception of pain [10,17-19]. Fourthly, breastfeeding involves maternal skin-to-skin contact, which stabilises blood glucose levels [20], body temperature and respiration rates [20-22], aids neurobehavioral self-regulation [23] and also reduces stress hormone release [24] and blood pressure [25]. Finally, breastfeeding involves intimate social interaction between mother and child, which may result in the release of the anti-stress hormone oxytocin [26,27]. These mechanisms of relaxation and analgesia work synergistically [28,29] and while research has thus far focused on newborns, the experience of mothers is that the calming, analgesic and relaxing effects of breastfeeding remain for as long as breastfeeding occurs [30].

need more article please click here : download file.pdf 447kb
......Baca Selengkapnya

Di Indonesia, latar belakang dicurahkan-nya tenaga untuk mengurangi AKI = Angka Kematian Ibu)salah satunya adalah alasan bahwa AKI adalah indika-tor untuk kondisi tubuh dan gizi ibu, kesehatan umum, dan kualitas pelayanan kesehatan(14). Penyebab langsung kematian ibu (kematian saat hamil dan melahir-kan) dilaporkan sebagian besar adalah perdarahan, toxemia(15) (keracunan kehamil-an), dan infeksi. Akan tetapi, di Indonesia yang paling perlu dilihat adalah selain yang berhubungan dengan penyebab langsung, juga hal yang erat hubungannya yaitu penyebab yang bersifat sosial dan budaya. Cara pemikiran ini sudah dipaparkan dengan jelas oleh Asisten Menteri Urusan Wanita dr. Abdullah Cholil sebagai berikut :

“Hasil survei memang menunjukkan,lebih dari 80 persen penyebab kematian ibuhamil dan bersalin ini disebabkan oleh trias klasik: perdarahan (40-60 persen), infeksi jalan lahir (20-30 persen) dan keracunan kehamilan (20-30 persen). Sisanya, sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk dengan terjadinya kehamilan dan persalinan.

Trias klasik umumnya berkaitan erat dengan tiga terlambat yaitu, pertama, jangan sampai terlambat mengambil keputusan untuk merujuk pada pelayanan kesehatan terdekat. Kedua, bila mau dirujuk, jangan sampai terlambat tiba di pusat pelayanan kesehatan, baik itu Puskesmas maupun rumah sakit. Ketiga, kalau sudah berada di rumah sakit,
jangan sampai terlambat ditangani.

"Tetapi jangan lupa, tingginya angka kematian ibu tak hanya dipengaruhi oleh faktor klinis. Justru di Indonesia, 64 persen angka kematian ini dikontribusikan oleh faktor-faktor tradisi, sosial-budaya, ekonomi dan pendidikan. Itulah yang perlu kita ungkapkan di kongres sekaligus menimba pengalaman dari negara lain," (Kompas, 3 September 1997)

Pernyataan dr. Abd. Cholil ini berlaku untuk tingkat nasional, akan tetapi setelah melihat contoh kasus ternyata juga relevan dengan kondisi Sulsel. Terdapat proses tertentu yang menyebabkan kematian ibu. Walaupun penyebabnya dalam alasan klinis adalah perdarahan, keracunan kehamilan atau infeksi,akan tetapi proses sebelumnya nyata melibatkan berbagai proses campur tangan--------
artikel selengkapnya silahkan klik : download file.pdf 346 Kb
......Baca Selengkapnya

Malaria adalah penyakit parasit yang resikonya lebih tinggi pada ibu hamil dibandingkan dengan mereka yang tidak hamil, terutama selama kehamilan pertama yang dapat menyebabkan infeksi plasenta, abortus, meninggal dalam kandungan, anemia dan berat badan lahir rendah. Pengaruh utama malaria selama kehamilan adalah terutama pada ibu dan janinnya.

    1. Pada ibu dengan infeksi plasmodium falciparum dapat terjadi komplikasi berat seperti demam, anemia, hipoglikemia, malaria otak, edema paru merupakan yang utama mempengaruhi wanita-wanita dengan kekebalan rendah.
    2. Pada malaria plasenta dapat menyebabkan kematian janin, abortus, hiperpireksia, prematuritas dan berat badan lebih rendah.

Kontrol malaria selama kehamilan dapat dilakukan secara kemoprofilaksis kemoterapi, mengurangi kontak dengan vektor dan vaksinasi....(artikel selengkapnya silahkan klik : download file.pdf 107Kb
......Baca Selengkapnya

Anemia gizi pada umumnya dijumpai di Indonesia terutama disebabkan karena kekurangan zat besi, sehingga anemia gizi sering disebut sebagai anemia kurang besi . Disamping itu kekurangan asam folat dapat merupakan faktor kontribusi terhadap terjadinya anemia, terutama terjadi pada segmen populasi tertentu yaitu ibu hamil. Kekurangan vitamin B 12 tidak umum terjadi, dan tidak mempunyai peranan penting dalam penyebab terjadinya anemia gizi .

Anemia kurang besi adalah salah satu bentuk gangguan gizi yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebab utama anemia kurang besi tampaknya adalah karena konsumsi zat besi yang tidak cukup dan absorbsi zat besi yang rendah dari pola makanan yang sebagian besar terdiri dari nasi, dan menu yang kurang beraneka ragam.

Konsumsi zat besi dari makanan tersebut sering lebih rendah dari dua pertiga kecukupan konsumsi zat besi yang dianjurkan, dan susunan menu makanan yang dikonsumsi tergolong pada tipe makanan yang rendah absorbsi zat besinya. Selain itu infeksi cacing tambang memperberat keadaan anemia yang diderita pada daerah-daerah tertentu, terutama di daerah pedesaan.

Kelompok masyarakat yang paling rawan adalah ibu hamil, anak prasekolah dan bayi. Terjadinya anemia pada bayi erat hubungannya dengan taraf gizi ibunya. Berkurangnya zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, atau kehilangan darah yang khronis dan adanya infeksi kecacingan akan menambah kemungkinan timbulnya anemia


File selengkapnya klik: download file (Pdf) 132Kb
......Baca Selengkapnya

Beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh balita. antara lain :
1. Flek paru-paru (Tuberkulose)
TBC atau tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh basil tahan asam (BTA) yangbernama Tuberculosis mycobacterium. Infeksi primer terjadi pada individu yang sebelumnyabelum mempunyai kekebalan terhadap TBC.Basil ini terhisap melalui saluran pernafasan sampai ke paru-paru dan bisa menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.Gejala klinis yang sering ditemui adalah batuk yang tidak spesifik tetapi progresif, anak juga biasanya kurus atau berat badan menurun, kurang nafsu makan, rewel, demam dan juga berkeringat pada malam hari.Penyakit ini sering terjadi di indonesia yang mempunyai banyak resiko faktor terjadinya penularan,misalnya pemukiman yang sangat padat, sanitasi dan hygiene yang kurang bagus, faktor gizi yang tidak cukup (diperparah dengan kenaikan barang-barang akibat kenaikan BBM).

Vaksinasi BCG, masih tetap efektif, terutama untuk daerah yang endemis seperti Indonesia.Jumlah penderita TBC di Indonesia terbesar ketiga di dunia, setelah Cina dan India. Selain itu,berjangkitnya TBC pada anak bukan semata-mata karena vaksinnya. lemah,bisa juga tergantung daya tahan tubuh anaknya, jumlah kuman, dan lingkungannya.Bila daya tahan kuat, risikonya kecil untuk menderita TBC. Untuk menunjang daya tahan itu, vaksinasi tetap penting. Dan tentu asupan nutrisi yang bergizi. Indonesia masih menggunakanBCG lantaran sejauh ini belum ada vaksin anti-TBC baru yang bisa menggantikannya. Riset mengenai vaksin masih terus berlangsung hingga saat ini.

download file (pdf) 40Kb
......Baca Selengkapnya